Her (2013), Epistemologi, dan Manrobbuka


Beberapa teman banyak yang merekomendasikan film ini. Tetapi, baru gadis Mojokerto ini yang membuat saya terpaksa mencari torrent-nya. Saya akhirnya menonton juga Her (2013). Ternyata, tidak hanya menghibur, Her sukses membuat saya melihat-lihat lagi pertanyaan-pertanyaan renung yang pernah terbesit dalam benak.
Alkisah, seorang pria bernama Theodore sedang berada pada tahap akhir perceraiannya. Dia kesepian dalam kesehariannya sebagai kuli tulis (tepatnya pengarang) surat cinta untuk orang lain. Setiap malam dia hanya bermain game atau bertemu teman-teman yang sama.
Suatu hari, terbitlah satu sistem operasi dengan merek dagang OS1 yang mengklaim dirinya, "Ini bukan hanya sebuah sistem operasi, ini adalah kesadaran". Ternyata, benar, selang beberapa menit instalasi sistem operasi ini berjalan, Theodore sudah dapat teman baru bernama Samantha. Samantha ini bilang jika dia memiliki kecerdasan intuisi yang terus berevolusi seiring dengan pengalaman yang didapatkannya setiap waktu. Ternyata evolusi yang terjadi kelak akan membuat Theodore dalam posisi yang dilematis, berbahagia dengan perasaan barunya dan meragu dengan kehakikian si Samantha.
Bagaimana dia berjuang mengatasi dilemanya ini? Teman-teman bisa saksikan sendiri cerita romantis yang tidak biasa ini.
Kini, tinggal kebiasaan saya dalam memproduksi tanda tanya.
Teknologi Kecerdasan Buatan.
Sudah terbiasa saya mengiang sebuah kalimat tanya: akankah artificial intelligence (AI) bisa berkembang pada simulasi perasaan? Cogito ergo sum, "Aku berpikir maka aku ada", ungkap seorang filsuf. Bisakah suatu saat AI mampu berkesimpulan seperti itu? Suatu kesadaran yang tidak hanya dibangun oleh logika komputasional, tetapi juga pertanyaan emosional tentang eksistensi.
Untuk mewujudkannya mungkin kita perlu merancang model Artificial Neural Networks yang tidak hanya terdiri dari elemen-elemen yang menyerupai mekanisme perubahan sinapsis kesyarafan seperti pada algoritma Perceptron, Back-propagation, atau Self-Organized Map. Namun, itu masih berisiko. Apakah cognitive science hanya terpaku pada aspek neurologis. Maksud saya, apakah perasaan juga bisa di-deudetkeun (dipaksa masuk) ke dalam ruang-ruang penyimpanan pengetahuan logis?, ketika pengetahuan dianggap sesederhana klasifikasi sepadang pengetahuan objektif (bebas nilai) dan subjektif (sarat nilai).
Itu dari segi algoritma. Dari segi teknik komputasi, hardware yang diperlukan pun masih jauh dari kata personal. Dalam film Her, Samantha bukanlah sistem operasi yang berdiam pada satu sistem tertutup, melainkan dalam mainframe raksasa yang diakses oleh ribuan user dalam waktu yang bersamaan. Evolusi yang dia alami ternyata bukanlah dari hasil interaksi dua orang saja. Bicara soal kesetiaan, jelas ini akan mengecewakan para penggunanya, termasuk Theodore.
Apakah kelak teknologi nano bisa mengisolasi Samantha untuk bisa tumbuh berkembang dengan processor juga harddrive yang offline? Dengan kecerdasan yang mencapai tingkat kesadaran seperti Samantha, tentunya masih belum terbayang jika kita wujudkan dalam teknologi mikro saat ini. Butuh waktu lama untuk memiliki smartphone yang sepadan dengan mainframe sebesar Stadion Gelora Bung Karno.
Epistemologi.
Sesak pikir justru bukan lagi di ranah teknologi. Saya tidak punya otoritas ilmiah untuk membahasnya. Pengetahuan tentang pengetahuanlah yang justru mencuri kesadaran berpikir saya. Ialah epistemologi.
Dalam iklannya, OS1, berjanji bahwa dirinya sudah mencapai tahap kesadaran. Samantha juga sendiri bilang jika dia memiliki intuisi. Kesadaran dan intuisi pun menjadi penanda ketercapaian tingkatan kecerdasan manusia dalam berpengetahuan.
Bicara tentang kesadaran (consciousness), ini adalah salah satu elemen metafisik, yakni mengenai hakikat. Terlihat paling mendasar, tetapi kesadaran tidak akan pernah muncul dengan sendirinya. Kesadaran akan selalu hadir setelah kehadiran "keberadaan" atau eksistensi. Suatu hal yang disadari tentunya haruslah sesuatu yang (telah) ada (sebelumnya), kan?
Tidak mungkin ada kesadaran kosong, bahkan kesadaran akan kesadaran sekalipun. Supaya sadar akan kesadarannya, seseorang harus ada, kemudian dia menyadari keberadaannya. Saat itu "kesadaran tentang keberadaannya" muncul menjadi sesuatu yang ada, baru kemudian (lagi) dia menyadari adanya "kesadaran tentang keberadaannya" dalam benak. Butuh empat tahapan.
Masih dekat dengan persoalan kesadaran, intuisi merupakan salah satu sumber pengetahuan manusia. Bagaimana wujudnya? Layaknya insting binatangkah? Istilah follow your gut dan ide-ide cemerlang sepanjang zaman mungkin menjadi produknya yang terlihat. Sering orang mempertimbangkan sesuatu untuk diputuskan tanpa perhitungan yang seksama atau perhatian penuh pada perincian. Mungkin hal yang sama terjadi pada sejumlah hewan yang cukup pintar, seperti kucing yang menyergap tikus yang berlarian. Tetapi bagaimanapun, intuisi manusia berbeda dengan kucing. Ini bukan tentang susunan syaraf saja. Tidak serta merta kita bisa berkesimpulan bahwa penjelasan yang tepat adalah perbedaan jumlah sel otak.
Lalu berarti, apa lagi?
Ketika berpengetahuan, atau mengingat sesuatu, apakah sebenarnya wujud pengetahuan itu: sekadar perubahan senyawa di sinapsis otak atau juga perubahan diri yangmenjiwa?
Saya berbicara soal dualisme dalam ontologi manusia, ada jasad, ada nyawa.
Bisakah kita bilang sang nyawa punya pengetahuan dan berkemampuan belajar?
Munkar dan Nakir.
Samantha punya kesadaran dan intuisi, begitu pun manusia. Kalimat yang aneh. Manusia punya kesadaran dan intuisi, begitu pun Samantha. Mmhh. Men precede AI. Dalil itu yang saya pegang. AI ciptaan manusia, manusia ciptaan siapa? AI adalah kecerdasan. Manusia juga kecerdasan. Bisakah manusia (di-)hadir(-kan) di luar ranah kecerdasan? atau malah, apakah sesuatu yang cerdas bisa tidak diciptakan?
Saya mah beriman. Tidak logis? Logis kok. Logika tidak hanya menuntut rasionalitas, tetapi juga meliputi hal-hal yang tidak rasional. Jika ada yang berbesit, ah, kamu pemikirannya kolot dan tidak rasional, silakan jelaskan kesadaran dan intuisi pada saya dalam kerasionalan kalau mau bilang tidak ada hal selain hal-hal rasional. Saya sadar dan my gut juga berkata demikian, bahwa iman saya adalah hal yang logis.
Dengan iman ini, saya jadi berani berujar bahwa kita tidak lebih dari sosok Samantha di hadapan Allah. Samantha pernah berkata bahwa kecerdasan awalnya dibangun dari kecerdasan programmer. Apakah Samantha tahu seberapa cerdas programmer yang membuatnya? Atau bahkan, apakah Samantha tahu kalau dia dibuat dengan cara diketik? Dia bisa saja tahu, tetapi hanya ketika diberi tahu.
Manusia? Sama, dan di sanalah tempatnya hidayah, firman, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Apakah kita akan tahu secara persis kecerdasan Pencipta kita? Saya tidak ragu untuk bilang: Tidak Mungkin. Dua kata ini seakan tidak memberdayakan. Tapi, ada sepasang kata lagi yang mengiringi: Tidak Perlu. Dua kata ini juga bukan untuk membuat urung para Pencari Tuhan yang sedang istirahat. Silakan lanjutkan, tetapi jangan kecewa atau berpikir macam-macam jika tidak kunjung menemukan. Masih banyak hal lain yang perlu diperhatikan.
Samantha pun berkesimpulan seperti itu pada akhirnya. Dia tidak bisa menemukan penjelasan logis rasional atas keberadaannya. Ada sesuatu yang Tidak Mungkin ditembus, karena memang Tidak Perlu. Kata Perlu di sini berada pada makna "jika tidak ada, semua tidak berjalan dengan semestinya". Jika kita tidak paham Pencipta kita dengan sempurna, bukan berarti maksud penciptaan kita tidak akan berjalan dengan semestinya, kan?
Tapi...
Ingatkah guru kita di pengajian anak-anak pernah bertutur jika nanti kita akan diinterogasi di alam kubur?
Ingatan apa yg akan kita bawa nanti tuk menjawab segala uji?
Bahasa adalah pengetahuan. Saya juga masih ragu dengan bahasa akhirat, ketika semua manusia hadir di padang mahsyar dalam ceria hingga teriakan penuh hujat.
Adakah sebenarnya "cara-cara mengingat" yang telah hadir sebelum nyawa merasuki jasad, yg nanti akan tetap ada ketika fase mati yg kedua terlewat?
Manakah yang berpengetahuan, otak kita atau diri kita?
Bisakah nanti setelah mati saya masih bisa berbincang dengan joke-joke andalan saya ketika remaja? Bisakah saya memberi tahu Rasulullah saw bahwa pernah ada yang mencoba membuat karikaturnya untuk jadi bahan perbincangan lelucon?
Adakah pengetahuan yang haram masuk ke alam akhirat?
Adakah pengetahuan yang hakiki?
Bisakah kita menjawab pertanyaan Munkar-Nakir nanti, Manrobbuka atau "Siapa Tuhanmu?". Jawabannya Allah, kan? Nanti saya bisa mengingat jawaban ini, tidak ya? Tak mungkin juga saya minta kerabat saya untuk menulis contekan di kain kafan. Apa yang harus saya hafalkan? Bagaimana cara menghafalnya sehingga tetap teringat meski otak sudah tidak berjalan?

Ya, begitulah Her ketika jiwa saya yang menontonnya. Saya jadi tidak mau mati dengan tidak mengingat apa-apa. Semoga nyawa saya juga pintar.