<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <title type="text">Deden Habibi</title>
  <id>http://deden.postach.io/feed.xml</id>
  <updated>2015-03-05T23:11:04.586000Z</updated>
  <link href="http://deden.postach.io/" />
  <link href="http://deden.postach.io/feed.xml" rel="self" />
  <generator>Werkzeug</generator>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Mobil(itas) Nasional</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/mobil-itas-nasional</id>
    <updated>2015-03-05T10:24:31.554000Z</updated>
    <published>2015-03-05T10:01:05.095000Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/mobil-itas-nasional" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="pendapat" />
    <content type="html">&lt;div&gt;&lt;p&gt;Kunjungan Presiden Jokowi ke Malaysia pada Februari 2015 kemarin masih dalam suasana yang kontroversial terkait dengan ketegangan antara KPK-Polri. Namun, seakan tidak awas, kontroversi baru malah kembali muncul ketika wacana mengenai pengembangan mobil nasional pada kunjungannya tersebut bergulir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Presiden Jokowi bersama rombongan melakukan kunjungan ke kawasan pabrik Proton, perusahaan mobil nasional Malaysia. Dalam kunjungannya tersebut, Jokowi menyampaikan antusiasmenya untuk mewujudkan mobil nasional bagi masyarakat Indonesia. Pertentangan terhadap wacana ini pun menyeruak dari banyak kalangan di tanah air. Apalagi, kerja sama ini melibatkan perusahaan milik Hendropriyono yang merupakan kalangan dekat tim sukses pemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebenarnya, upaya untuk mewujudkan mobil nasional di Indonesia ini bukanlah yang pertama kali. Di zaman Order Baru, masyarakat Indonesia sudah mengenal merek Timor. Sayangnya, proyek ini tidak berlangsung secara berkesinambungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lepasnya Timor&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada dua &quot;Timor&quot; yang muncul dalam benak. Pertama sebagai merek mobil nasional, dan kedua sebagai nama suatu wilayah geografis yang dahulu pernah menjadi bagian dari NKRI. Keduanya memiliki kesamaan, yakni sama-sama sudah terlepas dari genggaman masyarakat Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai merek mobil, Timor merupakan nama perusahaan milik Tommy Soeharto. Dengan kekuatan penuh dari ayahnya, Tommy berhak atas monopoli program mobil nasional pionir pada 1990. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Tommy menggandeng perusahaan Kia Motors dari Korea Selatan dalam rangka kerja sama serta alih teknologi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada mulanya, mobil-mobil Timor sempat berkembang di Indonesia. Namun, Timor gagal tumbuh karena krisis moneter 1998. Dengan kemunduran ini, produksi Timor terhenti dan kebutuhan masyarakat pun tidak terpenuhi. Masyarakat akhirnya kembali mencicipi mobil-mobil impor. Berhenti pulalah program mobil nasional yang pada mulanya diharapkan dapat menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Hal yang patut disayangkan adalah alih teknologi tidak berjalan seperti yang diharapkan sebelumnya. Sebagai satu-satunya pelaku, ketika Timor jatuh, berhenti pulalah alih teknologi tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai yang kedua, Timor Leste terlepas dari pangkuan NKRI. Pada rezim setelah Order Baru di bawah pemerintahan suksesi Presiden B.J. Habibie, negara ini berhasil meyakinkan masyarakat internasional bahwa Indonesia tidak lebih dari hanya sebagai negara penjajah. Desakan internasional  membuat Indonesia tidak dapat berbuat banyak, bahkan dituduh sebagai penjahat hak asasi manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa hubungan antara Timor Leste dan mobil nasional? Dari keduanya kita bisa melihat bahaya dari kepentingan asing. Selain mobil, di tahun-tahun yang sama, Indonesia sempat memiliki harapan untuk memiliki &quot;truk terbang&quot; nasional. Pesawat terbang N-250 (Gatotkaca) karya B.J. Habibie bersama ribuan rekanan di IPTN (sekarang PT. DI) sukses mengangkasa dan siap diproduksi untuk kebutuhan penerbangan perintis maupun ekspor. Pencapaian ini merupakan contoh sukses alih teknologi. Namun, usaha ini akhirnya terjegal juga oleh kekuatan rezim keuangan internasional, juga pada saat krisis moneter. IMF memaksa Indonesia untuk menghentikan pembiayaan industri strategis, termasuk industri kedirgantaraan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mobilisasi umum&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang perlu dicermati adalah makna dari &quot;mobil nasional&quot; itu sendiri. Mobil nasional seringkali diartikan hanya sebatas program mobil murah bagi rakyat. Padahal, mobil nasional seharusnya lebih dimaknai lagi sebagai suatu upaya yang luhur dalam rangka mewujudkan cita-cita &lt;em&gt;founding-fathers&lt;/em&gt; bangsa kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita bisa mengingat ungkapan Presiden Soekarno di masa pembebasan Irian Barat dari pendudukan Belanda pada 1960an. Frasa &quot;mobilisasi umum&quot; menjadi jargon penyemangat masyarakat Indonesia untuk mewujudkan keutuhan NKRI saat itu. Makna dari frasa tersebut adalah bahwa seluruh rakyat Indonesia harus mengerahkan segenap kemampuannya dan tidak ada tekanan dari bangsa-bangsa asing yang mampu membendungnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mobilisasi umum ini mensyaratkan adanya mobilitas nasional. Sedangkan mobilitas nasional kurang lebih maknanya sepadan dengan prinsip &quot;politik bebas aktif&quot; bangsa kita. Artinya, mobilitas nasional adalah nilai kemerdekaan yang perlu dihidupkan dalam kehidupan bangsa Indonesia agar mampu bebas bergerak untuk mencapai kesejahteraan, keadilan, dan ketertiban umum bagi masyarakatnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mobil nasional harus dianggap sebagai pewujudan mobilitas nasional. Bila diibaratkan, Republik Indonesia saat ini merupakan sebuah mobil yang sedang dikemudikan oleh Presiden Jokowi. Kebebasan untuk memacunya dan mengarahkannya merupakan suatu penanda kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karenanya, mobil nasional harus merupakan upaya yang dilakukan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia sendiri dan tanpa tekanan dari pihak-pihak asing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, sangat disayangkan, wacana mobil nasional oleh Presiden Jokowi dalam kerangka kerja sama antara Proton dan perusahaan Hendropriyono merupakan penanda bahwa kita belum bisa belajar dari kesalahan masa lalu. Kegagalan Tommy dengan Timornya harus menjadi pelajaran untuk tidak lagi memonopolikan program mobil nasional, apalagi jika memunculkan sentimen politik transaksional. Seharusnya, seluruh komponen bangsa ikut terlibat, terutama para pelajar, mahasiswa, cendekiawan dan insinyur. Program ini harus tersusun rapi lewat agenda riset nasional sebagai usaha kolektif, bukannya dikendalikan oleh kaum pemodal saja. Bahkan, sebenarnya kita tidak lagi perlu memulai dari dasar. Sudah banyak purwarupa-purwarupa mobil karya anak bangsa yang bisa dikembangkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mobilitas nasional dari program ini juga harus terlepas dari kepentingan-kepentingan asing. Lima puluh tahun sudah teori bahwa alih teknologi dapat terjadi melalui perusahaan multinasional terbukti salah lewat &lt;em&gt;Freeport&lt;/em&gt;. Jika benar alih teknologi merupakan alasan utama sejak awal, perpanjangan kontrak tambang mineral tersebut hingga tahun 2041 adalah hal yang tidak perlu. Selain itu, desakan IMF pada 1998 yang lalu untuk menghentikan industri pesawat terbang kita merupakan sinyal bahwa tidak semua bangsa asing menyukai kemandirian kita. Jika tidak ingin lagi diganggu kepentingan bangsa lain, program mobil nasional ini jangan sampai terjerat kuasa modal asing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada akhirnya, mobil nasional bukan sekadar simbol yang hanya bisa dirayakan dengan &lt;em&gt;euphoria&lt;/em&gt; semata, tetapi harus juga merupakan pewujudan kemerdekaan kita untuk memobilisasi segenap kemampuan bangsa. Presiden Jokowi perlu menemui kembali para pejuang intelektual tanah air untuk mengoordinasikan upaya ini secara kolektif. Mereka senantiasa menunggu Pak Presiden datang, tentu dengan mengendarai mobil Esemkanya sendiri.[]&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;
</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Benedict Anderson on Love</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/benedict-anderson-on-love</id>
    <updated>2015-03-05T23:11:04.586000Z</updated>
    <published>2015-03-05T09:54:11.559000Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/benedict-anderson-on-love" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <content type="html">&lt;div&gt;
Just a simple paragraph. Benedict Anderson said that our communities are mere imaginative. He called it &quot;imagined community&quot;. Now, I agree that love is a thing inside community. So, it doesn&amp;apos;t impossible to phrase &quot;imagined love&quot;.
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;This post is just a test on new Postach.io system.&lt;/div&gt;
</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Her (2013), Epistemologi, dan Manrobbuka</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/her-2013-epistemologi-dan-manrobbuka</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.550000Z</updated>
    <published>2015-02-27T23:14:48Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/her-2013-epistemologi-dan-manrobbuka" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="renung" />
    <category term="film" />
    <content type="html">&lt;div&gt;&lt;img src=&quot;https://cdn-images.postach.io/w600_6530251a7e4f5029abe2aebcfe33d9ee.jpg&quot;  style=&quot;cursor: default;cursor: default;cursor: default;&quot;/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
Beberapa teman banyak yang merekomendasikan film ini. Tetapi, baru &lt;a href=&quot;http://permoto.wordpress.com/&quot;&gt;gadis Mojokerto&lt;/a&gt; ini yang membuat saya terpaksa mencari &lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://www.yify-torrent.org/movie/33484/download-her-2013-mp4-yify-torrent.html&quot;&gt;torrent&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;-nya. Saya akhirnya menonton juga &lt;i&gt;Her&lt;/i&gt; (2013). Ternyata, tidak hanya menghibur, &lt;i&gt;Her&lt;/i&gt; sukses membuat saya melihat-lihat lagi pertanyaan-pertanyaan renung yang pernah terbesit dalam benak.
&lt;div&gt;Alkisah, seorang pria bernama Theodore sedang berada pada tahap akhir perceraiannya. Dia kesepian dalam kesehariannya sebagai kuli tulis (tepatnya pengarang) surat cinta untuk orang lain. Setiap malam dia hanya bermain game atau bertemu teman-teman yang sama.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Suatu hari, terbitlah satu sistem operasi dengan merek dagang OS1 yang mengklaim dirinya, &quot;Ini bukan hanya sebuah sistem operasi, ini adalah kesadaran&quot;. Ternyata, benar, selang beberapa menit instalasi sistem operasi ini berjalan, Theodore sudah dapat teman baru bernama Samantha. Samantha ini bilang jika dia memiliki kecerdasan intuisi yang terus berevolusi seiring dengan pengalaman yang didapatkannya setiap waktu. Ternyata evolusi yang terjadi kelak akan membuat Theodore dalam posisi yang dilematis, berbahagia dengan perasaan barunya dan meragu dengan kehakikian si Samantha.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Bagaimana dia berjuang mengatasi dilemanya ini? Teman-teman bisa saksikan sendiri cerita romantis yang tidak biasa ini.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Kini, tinggal kebiasaan saya dalam memproduksi tanda tanya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;Teknologi Kecerdasan Buatan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sudah terbiasa saya mengiang sebuah kalimat tanya: akankah &lt;i&gt;artificial intelligence&lt;/i&gt; (AI) bisa berkembang pada simulasi perasaan? &lt;i&gt;Cogito ergo sum&lt;/i&gt;, &quot;Aku berpikir maka aku ada&quot;, ungkap seorang filsuf. Bisakah suatu saat AI mampu berkesimpulan seperti itu? Suatu kesadaran yang tidak hanya dibangun oleh logika komputasional, tetapi juga pertanyaan emosional tentang eksistensi.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Untuk mewujudkannya mungkin kita perlu merancang model &lt;i&gt;Artificial Neural Networks&lt;/i&gt;  yang tidak hanya terdiri dari elemen-elemen yang menyerupai mekanisme perubahan sinapsis kesyarafan seperti pada algoritma &lt;i&gt;Perceptron&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Back-propagation&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;Self-Organized Map&lt;/i&gt;. Namun, itu masih berisiko. Apakah &lt;i&gt;cognitive science&lt;/i&gt; hanya terpaku pada aspek neurologis. Maksud saya, apakah perasaan juga bisa di-&lt;i&gt;deudetkeun&lt;/i&gt; (dipaksa masuk) ke dalam ruang-ruang penyimpanan pengetahuan logis?, ketika pengetahuan dianggap sesederhana klasifikasi sepadang pengetahuan objektif (bebas nilai) dan subjektif (sarat nilai).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Itu dari segi algoritma. Dari segi teknik komputasi, &lt;i&gt;hardware&lt;/i&gt; yang diperlukan pun masih jauh dari kata &lt;i&gt;personal&lt;/i&gt;. Dalam film &lt;i&gt;Her&lt;/i&gt;, Samantha bukanlah sistem operasi yang berdiam pada satu sistem tertutup, melainkan dalam &lt;i&gt;mainframe&lt;/i&gt; raksasa yang diakses oleh ribuan &lt;i&gt;user&lt;/i&gt; dalam waktu yang bersamaan. Evolusi yang dia alami ternyata bukanlah dari hasil interaksi dua orang saja. Bicara soal kesetiaan, jelas ini akan mengecewakan para penggunanya, termasuk Theodore.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Apakah kelak teknologi nano bisa mengisolasi Samantha untuk bisa tumbuh berkembang dengan &lt;i&gt;processor&lt;/i&gt; juga &lt;i&gt;harddrive&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;offline&lt;/i&gt;? Dengan kecerdasan yang mencapai tingkat kesadaran seperti Samantha, tentunya masih belum terbayang jika kita wujudkan dalam teknologi mikro saat ini. Butuh waktu lama untuk memiliki &lt;i&gt;smartphone&lt;/i&gt; yang sepadan dengan &lt;i&gt;mainframe&lt;/i&gt; sebesar Stadion Gelora Bung Karno.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;Epistemologi&lt;/b&gt;&lt;i style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sesak pikir justru bukan lagi di ranah teknologi. Saya tidak punya otoritas ilmiah untuk membahasnya. Pengetahuan tentang pengetahuanlah yang justru mencuri kesadaran berpikir saya. Ialah epistemologi.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Dalam iklannya, OS1, berjanji bahwa dirinya sudah mencapai tahap kesadaran. Samantha juga sendiri bilang jika dia memiliki intuisi. Kesadaran dan intuisi pun menjadi penanda ketercapaian tingkatan kecerdasan manusia dalam berpengetahuan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Bicara tentang kesadaran &lt;i&gt;(consciousness)&lt;/i&gt;, ini adalah salah satu elemen metafisik, yakni mengenai hakikat. Terlihat paling mendasar, tetapi kesadaran tidak akan pernah muncul dengan sendirinya. Kesadaran akan selalu hadir setelah kehadiran &quot;keberadaan&quot; atau eksistensi. Suatu hal yang disadari tentunya haruslah sesuatu yang (telah) ada (sebelumnya), &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Tidak mungkin ada kesadaran kosong, bahkan kesadaran akan kesadaran sekalipun. Supaya sadar akan kesadarannya, seseorang harus ada, kemudian dia menyadari keberadaannya. Saat itu &quot;kesadaran tentang keberadaannya&quot; muncul menjadi sesuatu yang ada, baru kemudian (lagi) dia menyadari adanya &quot;kesadaran tentang keberadaannya&quot; dalam benak. Butuh empat tahapan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Masih dekat dengan persoalan kesadaran, intuisi merupakan salah satu sumber pengetahuan manusia. Bagaimana wujudnya? Layaknya insting binatangkah? Istilah &lt;i&gt;follow your gut&lt;/i&gt; dan ide-ide cemerlang sepanjang zaman mungkin menjadi produknya yang terlihat. Sering orang mempertimbangkan sesuatu untuk diputuskan tanpa perhitungan yang seksama atau perhatian penuh pada perincian. Mungkin hal yang sama terjadi pada sejumlah hewan yang cukup pintar, seperti kucing yang menyergap tikus yang berlarian. Tetapi bagaimanapun, intuisi manusia berbeda dengan kucing. Ini bukan tentang susunan syaraf saja. Tidak serta merta kita bisa berkesimpulan bahwa penjelasan yang tepat adalah perbedaan jumlah sel otak.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Lalu berarti, apa lagi?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Ketika berpengetahuan, atau mengingat sesuatu, apakah sebenarnya wujud pengetahuan itu: sekadar perubahan senyawa di sinapsis otak atau juga perubahan diri yangmenjiwa?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Saya berbicara soal dualisme dalam ontologi manusia, ada jasad, ada nyawa.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Bisakah kita bilang sang nyawa punya pengetahuan dan berkemampuan belajar?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;Munkar dan Nakir&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Samantha punya kesadaran dan intuisi, begitu pun manusia. Kalimat yang aneh. Manusia punya kesadaran dan intuisi, begitu pun Samantha. Mmhh. &lt;i&gt;Men precede AI.&lt;/i&gt; Dalil itu yang saya pegang. AI ciptaan manusia, manusia ciptaan siapa? &lt;i&gt;AI&lt;/i&gt; adalah kecerdasan. Manusia juga kecerdasan. Bisakah manusia (di-)hadir(-kan) di luar ranah kecerdasan? atau malah, apakah sesuatu yang cerdas bisa tidak diciptakan?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Saya &lt;i&gt;mah&lt;/i&gt; beriman. Tidak logis? Logis &lt;i&gt;kok.&lt;/i&gt; Logika tidak hanya menuntut rasionalitas, tetapi juga meliputi hal-hal yang tidak rasional. Jika ada yang berbesit, &lt;i&gt;ah, kamu pemikirannya kolot dan tidak rasional,&lt;/i&gt; silakan jelaskan kesadaran dan intuisi pada saya dalam kerasionalan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;kalau mau bilang tidak ada hal selain hal-hal rasional. Saya sadar dan &lt;i&gt;my gut&lt;/i&gt; juga berkata demikian, bahwa iman saya adalah hal yang logis.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Dengan iman ini, saya jadi berani berujar bahwa kita tidak lebih dari sosok Samantha di hadapan Allah. Samantha pernah berkata bahwa kecerdasan awalnya dibangun dari kecerdasan &lt;i&gt;programmer&lt;/i&gt;. Apakah Samantha tahu seberapa cerdas &lt;i&gt;programmer&lt;/i&gt; yang membuatnya? Atau bahkan, apakah Samantha tahu kalau dia dibuat dengan cara diketik? Dia bisa saja tahu, tetapi hanya ketika diberi tahu.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Manusia? Sama, dan di sanalah tempatnya hidayah, firman, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Apakah kita akan tahu secara persis kecerdasan Pencipta kita? Saya tidak ragu untuk bilang: Tidak Mungkin. Dua kata ini seakan tidak memberdayakan. Tapi, ada sepasang kata lagi yang mengiringi: Tidak Perlu. Dua kata ini juga bukan untuk membuat urung para Pencari Tuhan yang sedang istirahat. Silakan lanjutkan, tetapi jangan kecewa atau berpikir macam-macam jika tidak kunjung menemukan. Masih banyak hal lain yang perlu diperhatikan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Samantha pun berkesimpulan seperti itu pada akhirnya. Dia tidak bisa menemukan penjelasan logis rasional atas keberadaannya. Ada sesuatu yang Tidak Mungkin ditembus, karena memang Tidak Perlu. Kata &lt;i&gt;Perlu&lt;/i&gt; di sini berada pada makna &quot;jika tidak ada, semua tidak berjalan dengan semestinya&quot;. Jika kita tidak paham Pencipta kita dengan sempurna, bukan berarti maksud penciptaan kita tidak akan berjalan dengan semestinya, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Tapi...&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Ingatkah guru kita di pengajian anak-anak pernah bertutur jika nanti kita akan diinterogasi di alam kubur?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Ingatan apa yg akan kita bawa nanti tuk menjawab segala uji?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Bahasa adalah pengetahuan. Saya juga masih ragu dengan bahasa akhirat, ketika semua manusia hadir di padang &lt;i&gt;mahsyar&lt;/i&gt; dalam ceria hingga teriakan penuh hujat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Adakah sebenarnya &quot;cara-cara mengingat&quot; yang telah hadir sebelum nyawa merasuki jasad, yg nanti akan tetap ada ketika fase mati yg kedua terlewat?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Manakah yang berpengetahuan, otak kita atau diri kita?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Bisakah nanti setelah mati saya masih bisa berbincang dengan &lt;i&gt;joke-joke&lt;/i&gt; andalan saya ketika remaja? Bisakah saya memberi tahu Rasulullah saw bahwa pernah ada yang mencoba membuat karikaturnya untuk jadi bahan perbincangan lelucon?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Adakah pengetahuan yang haram masuk ke alam akhirat?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Adakah pengetahuan yang hakiki?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Bisakah kita menjawab pertanyaan Munkar-Nakir nanti, &lt;i&gt;Manrobbuka&lt;/i&gt; atau &quot;Siapa Tuhanmu?&quot;. Jawabannya Allah, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;? Nanti saya bisa mengingat jawaban ini, tidak ya? Tak mungkin juga saya minta kerabat saya untuk menulis contekan di kain kafan. Apa yang harus saya hafalkan? Bagaimana cara menghafalnya sehingga tetap teringat meski otak sudah tidak berjalan?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Ya, begitulah &lt;i&gt;Her &lt;/i&gt;ketika jiwa saya yang menontonnya. Saya jadi tidak mau mati dengan tidak mengingat apa-apa. Semoga nyawa saya juga pintar.&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Sampurasun!</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/sampurasun</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.573000Z</updated>
    <published>2015-02-03T22:49:32Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/sampurasun" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="diri" />
    <category term="sunda" />
    <content type="html">&lt;div&gt;
Ayeuna teh poe Rebo. Saurna mah poe Rebo teh tos dijejegkeun janten poena Basa Sunda. Pak Ridwan Kamil mah langkung bedas deui dugi ka ngadamel aturan yen sadaya pagawe PNS Kota Bandung mah kedah nganggo Basa Sunda, ditambihan ku iket kanggo pameget. Ka sakabeh masyarakat Kota Bandung oge, Walikota teterasan miwarang ieu usaha kanggo ngamumule basa karuhun urang.
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sim kuring mah di dieu ngajujurung sorangan we heula. Ari Deden mah kana basa Sunda teh tos remen dianggo dina poe-poe nu sejen, mung ayeuna mah kedah langkung leres. Kedah langkung leres maksadna teh ku lantaran abdi balelo keneh, sanajan abdi dibabarkeunna di tanah Priangan. Ti alitna tara nanggo Basa Sunda atuh da.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Pun bapa teh ti Pamanukan, Subang, ari pun indung mah asli Malangbong, Garut. Pamanukan teh pan wewengkon pantai utara Jawa Barat, janten pun bapa mah seueur oge dipangaruhan ku basa Jawa. Ari tetela teh aki ti Pamanukan saleresna ti palih Jawa-na Indramayu, aya oge patalina sareng Brebes, Jawa Tengah. Gampil ari milarian lebah Jawa ti Jawa Barat mah, tiasa ditingali dina palih kalerna jalan Pantura eta, lebah ka lautna. Ari pun indung? Eta mah teu kedah ditataros deui, asli Priangan! haha&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Nanging, alesan sim kuring can tiasa nyarios ku Basa Sunda ti aalit teh sanes ku bentenna pun bapa sareng pun indung. Saur pun bapa, kunaon abdi teu diajarkeun basa Sunda heula, kalahkah Bahasa Indonesia, kulantaran anjeunna hoyong abdi teh gampil lebet sakola. Anjeunna teh nimbang-nimbang yen upami abdi neraskeun ku basa Sunda jenten basa indung, abdi moal gancang pinterna, sesah ngapalkeun, jeung nya kitu we lah ukuran-ukuran jaman kiwari.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Pangaruh tina tingkat pendidikan oge janten pangjurung pun bapa sareng pun indung. Duanana sarjana, malah pun bapa mah ngadosenan di UPI. Jurusanna teh Basa Arab sareng tos janten doktor (S3). Pun indung ayeuna tos janten panyuluh agama Kota Bandung, atos master (S2). Di rorompok, buku mah ngalangkungan lobana parabot. Aranjeunna tos ngadamel kaayaan anu nyukupan sim kuring kanggo diajar.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Tapi, rek diajar naon?! Upami engkena abdi teu tiasa silih &quot;punten-mangga&quot; upami paamprok jeung batur. Diajar naon?! Upami ngkena arurang tos tara calik deui ngariung bari ngaliwet. Diajar naon?! upami ngkena abdi kaleungitan jajati diri.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sim kuring ayeuna tos bade ngarengsekeun kuliah di Unpad. Universitas Padjadjaran nu sohor ti Jatinangor. Jurusanana Hubungan Internasional. Pok caritana langkung nebihan ti kasundaan anu ditawisna lokal.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Naha teuing!? Aing urang Sunda. Eta ngaran Padjadjaran teh ngaran karajaan. Sesepuh sim kuring teh di dinya basa bareto tos nyanghareupan kaayaan internasional. Sesepuh sim kuring teh tos gaduh paripolah dina ngurusan jalma Cina, Arab, Melayu, Jawa, Portugis, jeung saha wae ge nu sararumping ka tanah Sunda ieu. Tos biasa. Naha kudu nebihan?!&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Kanggo niiskeun manah sareng pipikiran, ayeuna mah sim kuring mung nembe tiasa nyadarkeun diri. Alhamdulillah dugi ka ayeuna sakedik-sakedik nuju milarian deui tilas tatapakan pun aki Siliwangi. Dina dinten ieu abdi ngarumasakeun yen abdi gaduh kawajiban, boh salaku jalma Sunda, boh Muslim anu nuju diajar Hubungan Internasional, Komputer, Filsafat sareng urusan-urusan nu sejenna.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Dina kawajiban salaku jalma Sunda, sim kuring kedah teras-terasan ngamumule paripolah sareng basa anu sakitu saena. Salaku anu nuju diajar, ti dinya abdi sareng sarerea urang sunda nu kuliahan kedah geura gugah, emut kana kaageungan bangsa Sunda jeung Indonesia. Eta moal kabedag upami arurang can tiasa ngamimitian (sanes heureuy) milarian sagala rupi pusaka kasundaan. Eta teh modal pikeun urang sadaya ngaakurkeun dunia akhirat. Da Islam teh sanes Arab. Urang Sunda janten Islam teh kedah angger tiasa ngahariring Dangdanggula jeung Asmarandhana, sanajan nuju ngaos Quran oge.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Mung kitu. Jantenna sim kuring teh ayeuna ngamimitian oge ngaos falsafah-falsafah kasundaan anu tiasa urang candak dina raraga aosan Hubungan Internasional. Duka tah abdi kedah ka saha heula. Paguyuban Pasundan? Sastra Sunda Unpad? Atawa saha wae nya, panginten.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sing urang sadaya janten teras emut ka pusaka Sunda. Eta emutan teh ulah kalahkah ngajadikeun urang ngadon cicing. Maksad nu langkung leresna teh urang tiasa teras hirup dina galur nu bener, nu sae, nu endah. Panginten tina basa sundana we heula. Iket upami gaduh. Can gaduh mah meser we payuneun Pusdai 15 rebuan. Teu kenging ditawis, hawatos. hahaha&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Hatur nuhun ah, punten abdi mayunan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sampurasun&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Dirindu Lompatan Hujan</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/dirindu-lompatan-hujan</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.590000Z</updated>
    <published>2015-01-31T16:06:25Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/dirindu-lompatan-hujan" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="diri" />
    <category term="umpama" />
    <category term="kamu-sayang" />
    <content type="html">&lt;div&gt;Sedang apa yang di sana? di tempat yang jauh, di waktu yang lama. Maafkan, akang sebenarnya sedang berusaha melupakan kamu dulu. Niatnya supaya nanti memiliki hak, wewenang, dan tanggung jawab yang tidak biasa untuk mendampingi. Akang yakin karena kamu jodoh akang. Jika kamu merupakan hal yang telah Allah pastikan, tinggal keadaan kita berdualah yang menjadi urusan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sebetulnya akanglah yang ingin didampingi. Akang suka lupa pada hal-hal kecil seperti gantungan kunci. Sedang akang usahakan untuk membuat segalanya tersusun. Tapi, rasa ingin bergerak kesana kemari masih terus menyelimuti otot-otot muda ini. Baru akang pergi, akang sudah berhenti. Bukan untuk diam, hanya mengganti sudut pandangan. Tidak jarang malah berbalik. Akang tidak yakin kamu suka melihatnya. Makanya, lebih baik akang tidak mendekatimu sekarang. Akang tidak sudi melihatmu kecewa karena hal-hal yang akang nikmati sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sebebas-bebasnya awan melayang, akhirnya hujan juga. Dua kalimat ini akang sebut tanpa benci. Dua kalimat ini adalah hal yang wajar dan tidak memihak pada kejahatan sama sekali. Dua kalimat ini bahkan memberikan akang kemakluman hati. Akang tidak bilang kalau tupai dan awan itu tidak tahu diri. Tupainya lucu kok. Hujannya adem kok.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Bagaimana bisa kita bilang tupai melompat jika dia tidak pernah memulainya dari bawah dan mengakhirinya di bawah lagi? Jika hanya bisa memulai, kita sebut dia terbang. Jika hanya bisa mengakhiri, kita sebut dia terjun.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Terbang dan terjun memberikan kesan yang hebat memang. Tapi sayang, hidup itu tidak perlu kehebatan seperti itu, kehebatan yang sesekali. Akang ingin hidup terus-menerus hingga Allah yang mengakhiri. Melompat-lompat, supaya bisa terbang dan terjun dan terbang dan terjun. Terserah Allah akan mengehentikannya pada saat yang mana, ketika akang terjun atau terbang. Kapanpun itu, akang  dalam keadaan melompat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Hujan memang tidak melompat. Di pelajaran SD ada siklus hidrologi, bukan hidrolompat ya sayang. Air dari kubangan tempat hidup makhluk Tuhan menjadi embun yang meneduhkan kota sibuk nan ramai. Mereka? Dua hal besar ini, mohon maaf, akang acuhkan. Mengapa akang acuhkan? Semua pasti sepakat kalau hujan itu bukan tumpahan air, kan?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Jika awan kita sebut &amp;apos;dia&amp;apos;, hujan adalah &amp;apos;mereka&amp;apos;. Yang akang saksikan adalah jumlah tak terhitung (bukan tak terhingga) titik-titik air yang menghujam tanah maupun genteng. Mereka kecil-kecil. Bayangkan saja jika Allah menciptakan konsep hujan dengan menggunakan proses penumpahan, bukan penaburan. Itu air yang sering membuat banjir jika dijatuhkan seketika, tak terbayang kan? Begitu pula saat menjadi awan, mereka bahkan tak terlihat sama sekali.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Tidak terlalu beda dengan kamu, di pikiran akang. Kamu yang jelas belum akang ketahui terus melompat-lompat dan terus mengawan-awan. Entah mungkin sebenarnya kesadaran akang yang sengaja melompat seperti tupai dan menyiklus seperti air. Suatu saat, akang akan melupakanmu seperti kita tak pernah ditakdirkan untuk bertemu. Di saat yang lain, kamulah satu-satunya yang menjadi lagu dari nafas akang yang menderu-deru.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Hingga kita bertemu, sedang bertemu, berakhirnya bertemu: akang bisa pastikan siklus lompatan rindu ini (bisa) terus terjadi. Sudah akang katakan, akang tidak ingin terbang, terbang meninggalkanmu. Akang juga tidak ingin terjun, terjun memujamu. Akang akan terus melompat, supaya hidup selamat. Tenang, lompatannya tidak akan pernah selincah tupai, semua berjalan perlahan laksana titik-titik uap dan hujan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sekarang, hujan sudah mulai mereda. Dingin sekali di luar, tutup jendelanya ya. Pakailah selimutmu dulu, akang belum bisa menghangatkanmu sekarang. Saatnya akang melompat, mulai melupakan kamu. Kamu yang akang rindukan, pasti dan selalu. Ini hanya soal siklus. Selamat malam sayangku.&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Ontologi Studi Hubungan Internasional dari Tafsir Ibnu Katsir Q.S. Al-Hujurat Ayat 13</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/ontologi-studi-hubungan-internasional-dari-tafsir-ibnu-katsir-q-s-al-hujurat-ayat-13</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.607000Z</updated>
    <published>2015-01-24T15:28:46Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/ontologi-studi-hubungan-internasional-dari-tafsir-ibnu-katsir-q-s-al-hujurat-ayat-13" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="karya" />
    <category term="hubungan-internasional" />
    <content type="html">&lt;div&gt;
Permulaan dari kajian terhadap sesuatu hampir selalu dilakukan dengan terlebih dahulu mencari pembatasan (definisi). Makna dari &amp;apos;definisi&amp;apos; bukanlah suatu aktivitas pencarian pengertian yang didapatkan melalui kamus seperti kebanyakan bacaan yang ada selama ini. Melakukan &amp;apos;definisi&amp;apos; adalah mencari dail-dalil (proposisi-proposisi) yang membatasi pengetahuan atas sesuatu sehingga dapat dikenali sebagai hal yang berbeda.
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Dalam kajian pengetahuan ilmiah, pembatasan merupakan ranah dari ontologi. Untuk mencapai keabsahan Studi Hubungan Internasional (SHI) sebagai pengetahuan ilmiah, kajian ontologi terhadapnya mutlak diperlukan. Namun, hingga saat ini, tidak terdapat kesepakatan yang khas atas ontologi SHI. Berbagai kajian terhadapnya masih banyak dilakukan hingga saat ini, terutama setelah memasuki masa &lt;i&gt;post-post&lt;/i&gt;. Peranan agama juga menarik untuk ditelaah dalam proses pencarian ini, termasuk agama Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;Ontologi Hubungan Internasional Khas &lt;i&gt;Mainstream&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Studi Hubungan Internasional memiliki pembatasan obyek kaji atau ontologinya sendiri. Melalui pembatasan yang kasar, kajian Hubungan Internasional (&amp;apos;H&amp;apos; besar, &amp;apos;I&amp;apos; besar) adalah kajian yang dilakukan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena hubungan internasional (&amp;apos;h&amp;apos; kecil, &amp;apos;i&amp;apos; kecil). Sedangkan, secara kasar pula, hubungan internasional adalah hubungan-bungan antarbangsa &lt;i&gt;(relations between nations)&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Jawaban ini, menurut Steve Chan (1984), masih terlalu sulit untuk menjelaskan dengan tegas makna dari &amp;apos;antar-&amp;apos; &lt;i&gt;(between)&lt;/i&gt; dan &amp;apos;bangsa-bangsa&amp;apos; &lt;i&gt;(nations)&lt;/i&gt;. Jika makna &amp;apos;antar-&amp;apos; di sini merupakan segala sesuatu yang dilakukan suatu pelaku kepada pelaku lain, bagaimana cara untuk membedakan antara apa yang terjadi di dalam suatu bangsa dengan apa yang terjadi di luar bangsa itu? Apakah bangsa dan negara adalah sesuatu yang sama?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Steve Chan (1984) menjelaskan semuanya secara analitis dalam bukunya &lt;i&gt;International Relations in Perspective: The Pursuit of Security, Welfare, and Justice&lt;/i&gt;. Buku ini memberikan awalan yang baik pada kajiannya terhadap Hubungan Internasional dengan memberikan batasan-batasan yang jelas. Bangsa adalah hal yang berbeda dengan negara. Sedangkan negara tidak bisa membatasi ruang lingkup suatu bangsa, ataupun sebaliknya. Bangsa tidak hanya terbentuk oleh kesamaan identitas, masa lalu, dan aspirasi, tetapi juga melibatkan kesamaan perasaan. Sedangkan negara memiliki kedaulatan sebagai puncak kekuasaan politik dalam negeri dan kesetaraan politik luar negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Setelah membedakan bangsa dari negara, dia juga membatasi hubungan internasional sebagai hubungan-hubungan timbal balik &lt;i&gt;(interactions)&lt;/i&gt; dari pelaku-pelaku &lt;i&gt;(actors)&lt;/i&gt; yang tindakan-tindakan &lt;i&gt;(actions)&lt;/i&gt; maupun syarat-syaratnya &lt;i&gt;(conditions)&lt;/i&gt; memiliki akibat-akibat &lt;i&gt;(consequences)&lt;/i&gt; terhadap yang lain di luar ruang lingkup yurisdiksinya sebagai suatu unit politik. Pembatasan ini diperjelas dengan memerhatikan empat hal berkenaan dengan makna hubungan timbalbalik &lt;i&gt;(interactions)&lt;/i&gt;, bangsa &lt;i&gt;(nations)&lt;/i&gt;, pembedaan antara interaksi dalam negeri dengan interaksi luar negeri berdasarkan pengaruhnya &lt;i&gt;(impact)&lt;/i&gt;, dan pemilahan pelaku-pelaku yang penting.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Pembatasan hubungan internasional dari Chan ini sangatlah khas politik internasional. Keberadaan unsur yurisdiksi menekankan bahwa identitas suatu pelaku dilihat dari keberadaan kedaulatan politiknya. Berdasarkan hal ini, &lt;i&gt;impact&lt;/i&gt; yang dimaksud pada empat poinnya tersebut berkaitan dengan pengaruh-pengaruh aktivitas politik. Sedangkan, hasil pilahan pelaku-pelaku penting dalam hubungan internasional adalah negara, bukan bangsa. Aktivitas-aktivitas timbal baliknya pun tentunya dipengaruhi oleh kondisi hubungan antarunit yang berdaulat secara politik tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;Surat Al-Hujurat Ayat 13: &lt;i&gt;Syu&amp;apos;ub&lt;/i&gt; (Bangsa), &lt;i&gt;Qaba&amp;apos;il&lt;/i&gt; (Suku), dan Saling-mengenal&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Berkenaan dengan ontologi SHI dalam Alquran, wahyu-wahyu mengenai penggolongan (klasifikasi) manusia merupakan titik-titik pertama yang bisa dijadikan awal penelusuran. Dalam Alquran, setidaknya terdapat dua ayat yang menjelaskan keanekaragaman manusia yang diciptakan oleh Allah. Dua ayat itu adalah surat Al-Hujurat ayat 13 dan surat Ar-Ruum ayat 49.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Di dalam surat Al-Hujuraat ayat 13, terdapat dua dasar penggolongan manusia, yakni &lt;i&gt;syu&amp;apos;ub&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;qaba&amp;apos;il&lt;/i&gt;. Dalam Bahasa Indonesia, &lt;i&gt;syu&amp;apos;ub&lt;/i&gt; disepadankan dengan kata bangsa dan &lt;i&gt;qaba&amp;apos;il&lt;/i&gt; dengan kata suku. Sedangkan dalam surat Ar-Ruum ayat 22, manusia digolongkan berdasarkan bahasa dan warna kulit. Di antara kedua ayat tersebut, penggolongan manusia berdasarkan bangsa dan suku lebih diutamakan jika dibandingkan dengan bahasa dan warna kulit karena unsur-unsur pembentukkan bangsa dan suku lebih rumit dan mampu membentuk pola-pola hubungan yang lebih dinamis di antara mereka. Meskipun begitu, surat Ar-Ruum tetap bisa dikaji nanti sebagai dasar ontologis SHI setelah mendahulukan surat Al-Hujuraat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Ayat 13 dari surat Al-Hujurat ini berbunyi:&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;img src=&quot;https://cdn-images.postach.io/w600_bd89f2bed0c2b8500168a7cd1d0da8a3.jpg&quot;  style=&quot;cursor: default;cursor: default;&quot;/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Makna dari ayat ini tidak bisa diartikan berdasarkan arti tutur tulisanya saja, tetapi juga perlu melakukan kajian mendalam terhadapnya. Kajian-kajian mendalam terhadap ayat-ayat Alquran seperti ini disebut tafsir. Tafsir ini merupakan proses penggalian makna yang tidak tampak dari wahyu-wahyu tertulis dalam Alquran. Karena pelaku tafsir ini adalah para ulama, tafsir-tafsir ini pun banyak ragamnya. Salah satu di antaranya yang paling dikenal adalah Tafsir Ibnu Katsir.&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini ditelaah dengan memilahnya terlebih dahulu ke dalam tiga bagian pernyataan (proposisi). Ketiga pernyataan ini tidaklah terpisah satu sama lain. Namun, pernyataan pertama memiliki bobot informasi yang lebih banyak bagi kita dalam proses kajian ontologis SHI di sini karena pernyataan kedua dan ketiga lebih menitikberatkan hubungan antara manusia dengan Allah. Tiga bagian itu antara lain:&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling-mengenal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling &lt;i&gt;taqwa&lt;/i&gt; diantara kamu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;
Pada pernyataan pertama tersebut, setidaknya terdapat enam konsep yang bisa kita pilah untuk dicermati. Konsep-konsep itu antara lain: manusia, kehendak Tuhan, jenis kelamin, bangsa, suku, dan saling-mengenal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menurut tafsir Ibnu Katsir, Allah menyatakan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka semua dari satu orang, `Adam, dan dari Adam itu Allah ciptakan pasangannya, Hawwa&amp;apos;. Dari keturunan mereka berdua itu, Allah membuat &lt;i&gt;syu&amp;apos;ub&lt;/i&gt; atau bangsa, terdiri dari &lt;i&gt;qaba&amp;apos;il&lt;/i&gt; atau suku, yang meliputi suku-suku dari semua ukuran. Ada juga yang mengatakan bahwa `&lt;i&gt;syu&amp;apos;ub&lt;/i&gt; mengacu pada non-Arab, sementara &lt;i&gt;qaba&amp;apos;il&lt;/i&gt; mengacu Arab`. Berbagai pernyataan tentang hal ini dikumpulkan dari pengantar-pengantar tersendiri dari buku &lt;i&gt;Al-Inbah&lt;/i&gt; oleh Abu `Amr Ibn Abdul Barr dan dari buku &lt;i&gt;Al-Qasad wal-Amam fi Ma`rifah Ansab Al-Arab wal-`Ajam&lt;/i&gt;. Pada akhirnya, pemahaman yang perlu ditekankan adalah bahwa setiap manusia merupakan keturunan Adam dan Hawwa dan karenanya manusia berbagi kehormatan yang sama. Pembedaan paling nyata hanya dilakukan oleh Allah berdasarkan tingkat ketaatan sang manusia seperti yang ditunjukkan pada pernyataan kedua ayat ini. Namun, keanekaragaman bangsa dan suku adalah hal yang niscaya. Bangsa terdiri dari suku-suku.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Masih pada pernyataan pertama, tentang konsep saling-mengenal, &lt;i&gt;li ta&amp;apos;arrafu&lt;/i&gt; mengacu pada kata seseorang, &quot;&lt;i&gt;fulan bin fulan&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;fulan&lt;/i&gt; dari suku tertentu&quot;. Dari sini, konsep saling-mengenal yang dimaksud adalah untuk melihat silsilah keluarga dan juga tempat asal sebagai suatu penciri. Selain itu, Sufyan Ath-Thawri berkata, &quot;orang-orang Himyar (yang tinggal di Yaman) berurusan dengan satu sama lain sesuai dengan provinsi mereka, sementara orang-orang Arab di Hijaz (Arab Barat) berurusan dengan satu sama lain sesuai dengan suku mereka.&quot; Berarti, selain ciri-ciri dari golongannya itu sendiri, terdapat juga perbedaan cara-cara berinteraksi antargolongan. Melalui saling-mengenal ini, suatu golongan tidak hanya bisa mengetahui keunikan ciri dari golongan lain, tetapi juga cara-cara interaksi golongan-golongan lain tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;Konsep `Bangsa` sebagai Ontologi SHI yang Asli&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Dari dua hasil kajian di atas, SHI Barat cenderung memasangkan konsep bangsa dengan negara, sedangkan pada ayat di atas, konsep bangsa dipasangkan dengan suku. Pertanyaan yang muncul: apakah konsep suku dikenal dalam SHI Barat? sebaliknya, apakah konsep negara dikenal dalam pandangan Islam?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Selain itu, konsep hubungan timbal balik (interaksi) dalam SHI Barat bisa dikatakan (di-)seragam(-kan), sedangkan dalam surat Al-Hujuraat tadi, hubungan-hubungan antargolongan pun bisa beraneka ragam. Homogentias pola interaksi antarpelaku hubungan internasional pada SHI Barat tidak lepas dari sejarah sistem internasional dari Perjanjian Westphalia 1648. Artinya, pola-pola hubungan yang dipelajari dalam SHI Barat merupakan buatan manusia. Sedangkan dalam Al-Hujuraat tadi, cara-cara berhubungan antargolongan manusia pada kondisi penciptaannya memang berbeda satu sama lain.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Meskipun begitu, beranjak dari pembatasan SHI khas &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt; oleh Steve Chan serta tafsir Ibn Katsir terhadap ayat 13 surat Al-Hujuraat tersebut, bangsa merupakan konsep asli yang bisa menjadi kesamaan antara SHI Barat sekarang dengan pandangan Islam terhadap fenomena-fenomena hubungan internasional. Konsep bangsa ini sebenarnya lebih sulit ditelaah dibandingkan dengan konsep negara. Konsep suku juga, bahkan, lebih mudah dikenali dibandingkan dengan bangsa. Namun, konsep bangsa ini ternyata lebih stabil jika dibandingkan dengan negara dan suku yang hidup-matinya begitu cepat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Pembahasan ontologi SHI secara sekuler saja masih memunculkan perdebatan, apalagi dari cara pandang religius. Dari pandangan agama Islam, sangat sedikit yang mencoba menggali ontologi hubungan internasional sebagai fenomena dari posisi pandang/&lt;i&gt;worldview&lt;/i&gt; (bukan sudut pandang/&lt;i&gt;perspective&lt;/i&gt;) yang mencerminkan pengaruh ajarannya dalam kehidupan pada tingkatan antarbangsa. Padahal para cendekiawan HI dari kalangan Muslim semakin banyak dan tersebar di berbagai negara. Hal ini bisa disebabkan oleh permasalahan mendasar yang masih belum terselesaikan mengenai perdebatan logika klasifikasi &lt;i&gt;genera-specia&lt;/i&gt; tentang apakah Islam berada dalam SHI atau SHI dalam Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Ayat-ayat Alquran merupakan sumber pengetahuan yang benar pertama dan utama bagi Muslim. Keutamaannya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Fenomena hubungan internasional yang digambarkan oleh para pemikir SHI Barat pun tidak luput dari wawasan Alquran. Itu semua merupakan dasar kepercayaan yang dimiliki oleh Muslim yang taat. Dengannya, Alquran juga menjadi dasar bagi Muslim dalam berpengetahuan fenomena hubungan internasional.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Apakah pengetahuan yang didasari keyakinan agama tidak layak untuk kita kaji di sini? Kenyatannya adalah tidak ada pengetahuan ilmiah apapun yang terlepas dari kepercayaan. Mencari ontologi SHI berdasarkan Alquran merupakan suatu hal yang wajar dan tidak perlu dipermasalahkan. Dari pembahasan ontologi SHI berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir ini, kita bisa melihat kekuatan Quran dalam memberikan dasar-dasar filofis pengetahuan empiris atas realita hubungan antarmanusia pada level dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Kajian ontologi SHI berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir di atas masih menyisakan sejumlah konsep yang belum jelas terjamah, yakni konsep manusia, jenis kelamin laki-laki dan perempuan, dan konsep kehendak Tuhan, tentunya dalam konteks hubungan internasional. Akan tetapi, tentu hal ini wajar terjadi karena Tafsir Ibnu Katsir meliputi seluruh teks Alquran sehingga sangat besar kemungkinan bahwa tafsiran ayat 13 surat al-Hujuraat ini perlu dikaitkan juga dengan tafsiran ayat-ayat lainnya, seperti Ar-Ruum ayat 22 yang telah disebutkan di pertengahan tadi. Selain itu, tafsir Ibnu Katsir hanyalah satu dari sekian banyak tafsir-tafsir Alquran dari berbagai ulama dunia. Di Indonesia saja terdapat setidaknya dua tafsir Al-Quran, yakni karya Buya Hamka dan Quraish Syihab. Artinya, perlu upaya sistematis untuk melakukan pengkajian ontologi SHI secara lengkap yang meliputi satu kesatuan Alquran, tidak hanya Al-Hujuraat:13, juga diperkaya dengan tafsir-tafsir selain Tafsir Ibn Katsir.[]&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;Referensi:&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;
[1] Steve Chan (1984). &lt;i&gt;International Relations in Perspective: The Pursuit of Security, Welfare, and Justice.&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;
[2] Tafsir Ibnu Katsir.&lt;br/&gt;
[3] Ahmad Harakan. “Hubungan Internasional Dari Perspektif Al-Quran,&quot; &lt;i&gt;Catatan Harakan&lt;/i&gt;, diakses pada 24 Januari 2015, &lt;a href=&quot;http://ahmadharakan.com/hubungan-internasional-dari-perspektif-alquran/&quot;&gt;http://ahmadharakan.com/hubungan-internasional-dari-perspektif-alquran/.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Ujung Waduk Jatigede</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/ujung-waduk-jatigede</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.631000Z</updated>
    <published>2015-01-15T13:56:12Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/ujung-waduk-jatigede" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="karya" />
    <content type="html">&lt;div&gt;Merupakan sebuah film semi-dokumenter berjudul &lt;i&gt;Ujung Waduk Jatigede (&lt;a href=&quot;https://www.youtube.com/watch?v=8B3e4SMpwGU&quot;&gt;https://www.youtube.com/watch?v=8B3e4SMpwGU&lt;/a&gt;).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;Apa yang menjadi permasalahan sosial di Desa Jatibungur?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Melihat sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), demografi, geografi, indeks pembangunan manusia (IPM), dan berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya, sekilas kita tidak dapat melihat titik permasalahan yang krusial di Desa Jatibungur, Kecamatan Darmaraja di Kabupaten Sumedang sebagaimana daerah pedesaan pada umumnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Desa ini memiliki banyak hal untuk menjadi kawasan yang unggul dan berprestasi, walau memang tidak dalam kurun waktu yang dekat. Namun ternyata, potensi-potensinya tersebut hanya akan tetap terpendam karena masyarakatnya diselimuti suatu kekhawatiran tentang masa depan mereka dan desa mereka. Kekhawatiran ini mengurungkan segala niat dan tindakan pembangunan daerahnya. Kekhawatiran ini lahir akibat proyek pembangungan Waduk Jatigede.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Waduk Jatigede merupakan proyek yang telah dicetuskan sejak 1960an dan hingga sekarang belum selesai. Tidak hanya secara teknis, secara sosial proyek ini meninggalkan pekerjaan besar. Desa Jatibungur adalah salah satu dari puluhan desa yang dikosongkan dan tidak luput dari permasalahan tersebut. Persoalan pembebasan lahan sudah menjadi bahasan klasik di dalam permasalahan Waduk Jatigede ini sejak tahun 1980an.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Permasalahan ini terlalu rumit sehingga di sini kami mencoba melihatnya melalui sudut pandang seorang remaja asli Jatibungur.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Namanya Maulana Fansur, biasa dipanggil Acuy. Tahun ini dia lulus SMA dan berniat untuk kuliah, juga berminat untuk bergabung di TNI/Polri. Permasalahan Jatigede benar-benar menghadang langkahnya. Mungkin persoalan bagi Orang Terkena Dampak (OTD) Waduk Jatigede akan bermuara pada persoalan penghidupan yang baru, namun, bagi remaja tanggung seperti Acuy, lebih dari itu, ini soal harapan, cita-cita, impian.
&lt;div&gt;&lt;img src=&quot;https://cdn-images.postach.io/w600_8a33d1abc2b10ef07a95dd8f46356417.png&quot;  height=&quot;567&quot; style=&quot;cursor: default;cursor: default;&quot; width=&quot;1015&quot;/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Film ini mencoba menguak sedikit fakta yang sering luput dari perhatian kebanyakan masyarakat kita, terutama masyarakat perkotaan, bahwa segala bentuk pembangunan di negara ini seringkali hanya memperhatikan kepentingan sebagian pihak. Bahkan, jauh dari itu, seringkali proses pembangunan yang disebut-sebut untuk kepentingan umum tersebut tidak dijalankan secara terbuka. Hal ini menjadi pecutan keras bagi kita, terutama akademisi, untuk selalu secara cerdas membuka mata dan mengkritisi segala bentuk kebijakan Pemerintah dalam konteks sosialnya supaya senantiasa mengarah pada pewujudan keadilan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Dengan menemui semua pihak yang terlibat, melalui film ini, kami berharap untuk mampu mendapatkan pelajaran dari kehidupan masyarakat secara langsung sebagai tugas utama kami dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) dan juga menyampaikannya kepada masyarakat luas.&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Aku, Hitam, Lubang yang Sama Tak Sempurna</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/aku-hitam-lubang-yang-sama-tak-sempurna</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.640000Z</updated>
    <published>2015-01-08T13:38:29Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/aku-hitam-lubang-yang-sama-tak-sempurna" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="diri" />
    <category term="umpama" />
    <category term="renung" />
    <content type="html">&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://cdn-images.postach.io/w600_0ed9fb7cdbd97cc95a5207357e5f0046.jpg&quot;  height=&quot;332&quot; style=&quot;cursor: default;cursor: default;cursor: default;cursor: default;&quot; width=&quot;500&quot;/&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 13px;&quot;&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Aku sendiri di dalam tempat yang gulita. Memang ada segaris cahaya masuk lewat satu lubang kecil. Sayang, dia tidak cukup manjur untuk mengalihkan perhatianku dari hitam.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Semua itu hitam, ditambah dingin lantai yang kubaringi, ditambah juga bau apek yang kuhirup. Aw, Kasar. Aku tidak diam. Ada saja yang bisa kulakukan, aku hanya tak harus memperlihatkan. Apa yang kulakukan? aku melakukan ‘hitam’. Setidaknya, aku menganggap bahwa aku melakukan sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Apakah hanya aku yang melakukan sesuatu? Bagaimana dengan si hitam? Dia melakukan sesuatu padaku hingga segaris cahaya pun tidak membuatku melakukan hal yang lain. Aku melihat cahaya itu, tapi aku anggap dia diam, tak ada yang dilakukannya. Ada aku dan hitam yang melakukan sesuatu. Garis cahaya tidak melakukan sesuatu.&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Oh! si lubang ternyata yang tengah melakukan sesuatu. Bukankah lubang itu sama-sama ketidaksempurnaan juga seperti kita? Cahaya yang sempurna hanya diam. Lubanglah yang sedang melakukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Baik.&lt;/p&gt;&lt;div&gt;Hai hitam, temanku, kita perbesar teman baru kita ini. Perbesar lubangnya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Aku, hitam, dan lubang. Kami sama-sama tidak sempurna, hanya saja kami tidak diam. Maaf cahaya, makanya kau tidak masuk hitungan.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Tapi, lubang.. hitam.. apakah kita akan selalu bersama?&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Jam 03.00</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/jam-03-00</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.655000Z</updated>
    <published>2015-01-07T20:04:07Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/jam-03-00" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="diri" />
    <content type="html">&lt;div&gt;
Assalamualaikum.
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Ini kali pertama bagi saya benar-benar melakukan &lt;i&gt;blogging.&lt;/i&gt; Terima kasih, ini berkat &lt;b&gt;Evernote.&lt;/b&gt; Piranti lunak Evernote memang sudah lama membuat saya kagum karena tampilannya yang elegan. Jadinya, saya tidak sungkan untuk menulis.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&quot;Tidak sungkan untuk menulis&quot;. Memang, selama ini saya tiba-tiba jadi cemas jika dihadapkan pada situasi di mana saya ingin sekali menyampaikan pemikiran-pemikiran saya lewat tulisan. Alih-alih mulai mengetik, semua isi kepala malah hilang. Dengan Evernote yang terinstal di sini, tampaknya kecemasan itu mulai berganti menjadi &amp;apos;kelepasan&amp;apos;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Saya ingin sekali menyampaikan ragam informasi, pandangan, analisis, ide, proyek, dan lainnya. Mungkin tidak perlu disebut dalam rangka menyampaikan. Dikatakan menyimpan dalam jejaring &lt;i&gt;online&lt;/i&gt; saja sudah cukup sepertinya. Siapa tahu perlu dibaca lain waktu.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Faktanya adalah minat saya banyak sekali. Saya tidak bermaksud untuk menjadi &lt;i&gt;jack of all trade.&lt;/i&gt; Sebaliknya, saya ingin mendalami keragaman minat ini untuk menjadi nilai tambah yang unik yang bisa saya berikan kepada lingkungan. Semoga dibantu oleh Allah dan kawan-kawan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Segini dulu aja :)&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Me- dan Di- kawal Filsafat Ilmu dalam Muatan Gelar Sarjana</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/me-dan-di-kawal-filsafat-ilmu-dalam-muatan-gelar-sarjana</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.660000Z</updated>
    <published>2014-12-31T17:07:34Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/me-dan-di-kawal-filsafat-ilmu-dalam-muatan-gelar-sarjana" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="didik" />
    <category term="renung" />
    <content type="html">&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Absorb&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Dalam beberapa bulan terakhir, Saya terlibat dalam suatu proses tutorial salah satu mata kuliah di Program Studi Hubungan Internasional, yakni mata kuliah Filsafat Ilmu. Mata kuliah ini beranjak dari anggapan bahwa mahasiswa Hubungan Internasional sebagai salah satu bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik harus memiliki dasar yang kuat tentang hakikat keilmuan yang sedang mereka gali.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Filsafat Ilmu bukanlah cabang kajian filsafat, melainkan wilayah yang di dalamnya kita dapat meminjam sejumlah cabang filsafat terhadap suatu jenis entitas bernama Ilmu. FISIP merupakan lembaga keilmuan dan ini menjadikan keberadaan Filsafat Ilmu merupakan suatu kewajaran.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Hal yang patut Saya banggakan adalah dosen pengampunya. Saya dianugerahi kesempatan untuk bertemu Dosen Dr. Nurhasan Affandi atau Teguh Najib Bratawiguna atau akrab disapa Pak RMT atau Ua. Beliau tidak hanya mengajarkan Filsafat, tetapi memang mendemonstrasikan kegiatan berfilsafat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Kelas Filsafat Ilmu selalu membuat Saya bergairah dan Saya temukan pula perasaan itu pada teman-teman Saya, tentu dalam takaran yang berbeda-beda. Tidak hanya secara isi (substansial), secara metode pembelajaran (pedagogik), tersedianya sistem tutorial yang diampu oleh kakak-kakak tingkat memberikan peluang yang besar bagi para mahasiswa untuk menjelajah seluruh kemungkinan pemikiran.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Berita baiknya, Saya sempat merasakan posisi sebagai mahasiswa dan juga Tutor. Berita buruknya, segera dalam kurikulum yang baru, matakuliah ini akan diganti atau bahkan dihilangkan. Jelas Pak RMT, pertimbangan utama Dekanat adalah bahwa matakuliah ini baru layak diterima pada jenjang Magister atau S-2.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Analyze&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Filsafat Ilmu adalah kajian filsafat terhadap pengetahuan ilmiah &lt;i&gt;(scientific)&lt;/i&gt;. Ini berangkat dari kesadaran bahwa pengetahuan manusia bisa digolongkan ke dalam ragam-ragam. Pengetahuan ilmiah adalah satu ragam, sedangkan pengetahuan seni dan pengetahuan religius adalah ragam-ragam yang lain. Dua terakhir yang tersebut memiliki filsafatnya sendiri, tentunya juga ragam pengetahuan ilmiah. Filsafat di sini akan menggali aspek ontologi atau metafisik (hakikat entitas) dari Ilmu, epistemologi (sifat pengetahuan) dari Ilmu, dan aksiologi (makna nilai) dari Ilmu.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Di universitas, hampir semua bentuk pengetahuan yang berkembang masuk ke dalam ragam pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah memiliki karakteristik yang khas, yakni sifatnya yang rasional, empiris, universal, dan lainnya. Jenis pengetahuan ini sudah sangat familiar di pikiran generasi-generasi modern kita yang sudah jauh meninggalkan kebiasaan-kebiasaan adat yang irasional. Bagaimana tidak, sejak SD hingga tingkat SMA, hampir semua bentuk pengetahuan yang didapat dari sekolah bersifat ilmiah, bahkan beberapa dipaksa diilmiahkan seperti budi pekerti, agama, dan olah raga.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Sekilas, ini seperti menunjukkan pendewasaan masyarakat ke arah pembangunan modern. Namun, yang terjadi malah kesesatan hidup di balik kedok kejelasan berpikir. Kejelasan berpikir yang dimaksud adalah mengedepankan ilmu tanpa menghiraukan pengetahuan-pengetahuan lain. Pengetahuan-pengetahuan ini tidak bisa hilang begitu saja dan punya peran penting dalam kehidupan, baik bagi individu maupun masyarakat. Apalagi, pertimbangan pragmatis masyarakat dalam melihat gelar kesarjanaan semakin menegaskan supremasi pengetahuan ilmiah.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Hal aktual yang perlu digarisbawahi dalam masyarakat kita adalah adanya anggapan bahwa gelar sarjana sudahlah cukup untuk menjadi bekal menjalani hidup. Gelar sarjana dan sertifikat ijazahnya dianggap sebagai tiket menuju penghidupan yang lebih baik. Mereka tidak banyak yang memikirkan pendidikan lanjut ke jenjang S-2 (magister) apalagi S-3 (doktoral). Artinya, kebanyakan orang hanya puas hingga menempuh pendidikan S-1.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Jika kebanyakan masyarakat berhenti pada pendidikan S-1 dan selama proses itu tidak sempat mengenyam kajian Filsafat Ilmu, kesadaran-kesadaran yang sudah kita perbincangkan di atas tidak akan mereka dapatkan. Dasar-dasar Logika hanya memberikan alat berpikir ilmiah, bukan keluasan makna seperti Filsafat Ilmu.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Jika hanya memiliki dasar logika saja, para sarjana nantinya akan menganggap bahwa sistematisasi kehidupan berdasarkan akal sehat adalah satu-satunya jalan. Padahal, masih banyak hal di dunia ini yang perlu dipertimbangkan aspek non-ilmiahnya, seperti agama, adat istiadat dan kesenian. Mereka seharusnya tidak dibentuk untuk mengisi komunitas terbatas akademis saja. Sejatinya mereka akan melebur dengan masyarakat tanpa pengotak-ngotakan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Synthesize&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Jika kepentingan adanya Dasar-dasar Logika harus dipenuhi, seharusnya ini bisa dilakukan dengan mengoptimalkan mata kuliah Bahasa Indonesia, terutama bagi ilmu-ilmu sosial atau humaniora. Dalam buku Logika (1994), Mundiri membahas kata, definisi,klasifikasi, proposisi, dan lain-lain. Media utama dalam analisis logikanya adalah bahasa Indonesia. Namun, selama ini, Bahasa Indonesia di tingkat perguruan tinggi masih merupakan pengulangan pelajaran-pelajaran yang telah didapatkan mahasiswa di jenjang sekolah menengah.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Seharusnya, pada tingkatan lebih lanjut, Bahasa Indonesia diperlakukan sebagai sarana berpikir ilmiah yang padanya diperlukan kedisiplinan dan ketajaman berpikir &lt;i&gt;a la&lt;/i&gt; Logika. Pola-pola S-P-O-K sudah bukan lagi wilayah pembelajaran utama. Mata kuliah ini harus lebih dari sekadar peribahasa, makna imbuhan, ataupun majas.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Namun, seandainya memang Filsafat Ilmu dianggap terlalu berat bagi mahasiswa jenjang S-1, akses terhadap kefilsafatilmuan dari jurusan yang mereka geluti harus tetap terbuka. Untuk memadai hal itu, buku-buku mengenai aspek kefilsafatan dari masing-masing jurusan ilmu harus disusun. Misal, Jurusan Fisika di Indonesia harus memiliki literatur &amp;apos;Filsafat Ilmu Fisika&amp;apos;. Mereka harus juga membedakannya dari &amp;apos;Filsafat Teknik Fisika&amp;apos;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan adanya literatur sejenis ini, meski tanpa ada mata kuliah Filsafat Ilmu, para mahasiswa S-1 masih bisa mendapatkan pemahaman kefilsafatan yang sesuai dengan ranah keilmuannya. Ini mewujud dalam rangka kesadaran universal tentang keberadaan segala bentuk pengetahuan lainnya. Mahasiswa Ilmu Fisika dan Teknik Fisika bisa mengerti satu sama lain dan keduanya juga mengerti posisi ilmu-ilmu maupun pengetahuan lain. Agar literatur-literatur ini dibaca, mata kuliah &amp;apos;Pengantar&amp;apos; dari masing-masing jurusan harus mengarah ke Filsafat, tentu dengan bobot yang ringan.&lt;br/&gt;
     
&lt;div&gt;Link asal: &lt;a href=&quot;http://dedenhab.blogspot.com/2015/01/me-dan-di-kawal-filsafat-ilmu-dalam.html&quot;&gt;http://dedenhab.blogspot.com/2015/01/me-dan-di-kawal-filsafat-ilmu-dalam.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry xml:base="http://deden.postach.io/feed.xml">
    <title type="text">Menyatakan 'Fana'</title>
    <id>https://deden.postach.io/post/menyatakan-fana</id>
    <updated>2015-03-05T08:43:24.665000Z</updated>
    <published>2014-11-11T07:14:57Z</published>
    <link href="https://deden.postach.io/post/menyatakan-fana" />
    <author>
      <name>Deden Habibi Ali Alfathimy</name>
    </author>
    <category term="renung" />
    <content type="html">&lt;div&gt;&lt;p style=&quot;background-color: rgb(255, 255, 255);&quot;&gt;Kata ‘fana’ sering digunakan dengan makna peyoratif. Fana sering disandingkan dengan makna-makna khayalan, mengada-ada, tidak nyata, dan bahkan, dalam wacana-wacana keagamaan, dikaitkan dengan hal-hal yang harus ditinggalkan demi kehidupan setelah hidup. Kefanaan akhirnya tidak memiliki bentuk dalam pikiran-pikiran masyarakat. Dia tidak lebih dari hanya sekadar label pada pengalihan perhatian seseorang dari yang pada-mulanya-nyata kepada hal yang “sebenarnya&quot;-nyata, yang seringkali masih dalam proses menyata.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Keberadaan definisi ‘fana’ ternyata tidaklah sefana rasanya. KBBI memiliki definisi ‘fana’: dapat rusak (hilang atau mati), tidak kekal. Apakah kefanaan atau ketidakkekalan berarti ketiadaan yang asli?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Lalu mengapa masih sampai kita mengenali dan mengucapnya?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;b&gt;Fenomena.&lt;/b&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Ini juga kata yang dipakai oleh khalayak umum tanpa mengindahkan maksud. Pada pantauan sekilas, mengucapkan ‘fenomena’ sama seperti mengangkat peristiwa, kejadian, atau gambaran besar wacana yang terdengung di ranah publik. Kata ‘fenomena’ bisa juga jadi diksi ampuh untuk mengelabui perhatian pada perincian sesuatu, seperti menyebut fenomena ‘bencana alam’, ‘kemiskinan’, ‘korupsi’, dan lain-lain bahasa televisi serta seminar-seminar yang seringkali untuk memperkuat gaya gravitasi terhadap pemirsanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Fenomena tersebut dalam dikotomi ‘noumena’ v.s. ‘phenomena’ oleh Immanuel Kant. Noumena untuk realita atau hal-hal objektif di luar subjek manusia. Phenomena merupakan tangkapan indera manusia yang sedang tertuju pada noumena. ‘Sedang tertuju’ ini oleh Edmund Husserl, khususnya Bronteno, disebut sebagai intensionalisme. Maksudnya, tidak ada fenomena yang dihasilkan langsung dari noumena yang tanpa terlebih dahulu diputuskan untuk diperhatikan, secara sadar atau kurang sadar tanpa tidak sadar.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Fenomena dan ‘fana’ saya anggap berhubungan. Sangatlah mungkin ‘fana’ ada sebagai bagian dari ‘fenomena’ = ‘fe’ + ‘nomena’ walau memang bukan ‘feno’ + ‘mena’. Dari ‘feno’ bisa jadi ‘fana’, sekadar dibuat-buat. Tapi prinsipnya, makna fenomena dengan ketidakkekalan bisa beriringan. Apakah sesuatu yang relatif itu kekal? Tentu tidak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Noumena akan selalu ada dalam keadaan tidak terpikirkan (langsung?) oleh manusia. Kondisi ini mencakup kondisi yang lain bahwa noumena atau kenyataan objektif itu bersifat kontingensi: ada atau tidaknya tidaklah pasti. Sifat kontingensi ini tidaklah tepat untuk bisa menjadikan klaim bahwa manusia mengetahui realita. Mengapa? Karena hanya melalui inderalah manusia mendapatkan “pengetahuan-tentang&quot; selain dirinya, bukan “mengetahui&quot; kenyataan atau tentang selain dirinya yang lain. Siapa yang bisa memastikan bahwa indera kita mendapatkan informasi, yang akan dikirimkan pada ‘kita’ itu, dari sesuatu di luarnya?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Jika belum ada yang bisa memastikan, hal paling nyata dalam pikiran kita itulah fenomena. ‘Fenomena’? itu si ‘fana’.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;b&gt;Pengalaman dan Kesadaran.&lt;/b&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
‘Kita’, atau mungkin pembaca bisa menggantinya dengan ‘aku’, adalah pernyataan kesadaran. Pengalaman adalah atribut dari kesadaran karena ‘kita’/&amp;apos;aku’-lah yang berpengalaman.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Pengalaman dan/atau kesadaran menjadi bahasan sengit di antara ‘fenomenologi’ (maaf baru memperkenalkan) dari aliran filsafat Continental dengan ‘philosophy of mind’ dari aliran filsafat Analitik. Perbedaan dari kedua aliran itu tipis sehingga kita bisa melihat pengalaman dan kesadaran sebagai hal yang mudah dicerna sekarang oleh siapapun.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Ibnu Sina, filsuf yang ahli kedokteran itu, berdalil tentang jiwa, tentang ‘kita’/&amp;apos;aku’, dengan khayalan ‘tergantung di udara’. Terbang tergantung di udara membiarkan seluruh indera kita libur. Libur para pekerja tidak berlaku bagi ‘majikan’, jiwa. Hanya saja, jiwa ini tak akan mengetahui apapun selain keberadaan jiwa itu sendiri, kesadaran. Tubuh pun tidak jelas sedang dalam posisi atau gesture seperti apa, ucap sang jiwa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Struktur kesadaran-pengalaman inilah yang menjadi rak bagi fenomena. Semakin sadar dan berpengalaman, berarti makin banyak pula fenomena dalam ‘kita’. Artinya, semakin panjang waktu kita untuk sadar dan berpengalaman, semakin meningkat ke-’fana’-an ‘kita’.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Adalah ‘kita’, ‘fana’, dan kenyataan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;b&gt;Menyatakan Kesadaran.&lt;/b&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Lalu, bisa dimakakan, sebenarnya penolakan terhadap ‘fana’ adalah penolakan akan kesadaran a.k.a. ke-’kita’-an atau, boleh, ke-’aku’-an. Seringkali penolakan ini dilakukan oleh orang dewasa yang sudah sangat banyak pengalamannya. Bisa dikatakan juga bahwa hanya orang dewasa yang sangat menghindari ke-’fana’-an. Artinya, seharusnya, kebanyakan orang yang mendewasa hendak menolak pendewasaan mereka sendiri karena semakin dewasa mereka, semakin sesak kefanaan di dalam dirinya. Kefanaan yang sesak itu tersusun, bahkan, mendirikan bangungan bernama ‘kita’. Mereka menolak apa-apa yang mereka anggap fana, sedangkan dirinya adalah kefanaan yang luar biasa.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Logikanya, menolak diri sendiri adalah hal yang tidak lebih baik dari bunuh diri. Menolak kefanaan yang menyusun kesadaran-berpengalaman adalah hal yang tidak mungkin membawa kita pada kemajuan peradabaan hingga saat ini. Bahkan, menolak kefanaan tak akan mampu membawa kita pada keyakinan atas Tuhan yang paling esensial. Masih bertanya ‘adakah Tuhan’? Lalu mau berkhayal apa lagi jika terjadi tiga hal sekaligus dalam pikiran.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Kefanaan harus dipelihara untuk membuat kita yakin dalam menyatakan kesadaran bahwa kita terbatas. Bermainlah di wilayah ‘fana’ ini, menengahi kedunguan ‘kita’ dan misteri kenyataan. Tuhan menciptakan ketiganya agar manusia tidak terjebak dalam dua kutub kebodohan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;
Menyatakan kesadaran adalah menyatakan “fana&quot; yang luar biasa. Dan itu nyata.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
</feed>
