Dirindu Lompatan Hujan
Sedang apa yang di sana? di tempat yang jauh, di waktu yang lama. Maafkan, akang sebenarnya sedang berusaha melupakan kamu dulu. Niatnya supaya nanti memiliki hak, wewenang, dan tanggung jawab yang tidak biasa untuk mendampingi. Akang yakin karena kamu jodoh akang. Jika kamu merupakan hal yang telah Allah pastikan, tinggal keadaan kita berdualah yang menjadi urusan.
Sebetulnya akanglah yang ingin didampingi. Akang suka lupa pada hal-hal kecil seperti gantungan kunci. Sedang akang usahakan untuk membuat segalanya tersusun. Tapi, rasa ingin bergerak kesana kemari masih terus menyelimuti otot-otot muda ini. Baru akang pergi, akang sudah berhenti. Bukan untuk diam, hanya mengganti sudut pandangan. Tidak jarang malah berbalik. Akang tidak yakin kamu suka melihatnya. Makanya, lebih baik akang tidak mendekatimu sekarang. Akang tidak sudi melihatmu kecewa karena hal-hal yang akang nikmati sekarang.
Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sebebas-bebasnya awan melayang, akhirnya hujan juga. Dua kalimat ini akang sebut tanpa benci. Dua kalimat ini adalah hal yang wajar dan tidak memihak pada kejahatan sama sekali. Dua kalimat ini bahkan memberikan akang kemakluman hati. Akang tidak bilang kalau tupai dan awan itu tidak tahu diri. Tupainya lucu kok. Hujannya adem kok.
Bagaimana bisa kita bilang tupai melompat jika dia tidak pernah memulainya dari bawah dan mengakhirinya di bawah lagi? Jika hanya bisa memulai, kita sebut dia terbang. Jika hanya bisa mengakhiri, kita sebut dia terjun.
Terbang dan terjun memberikan kesan yang hebat memang. Tapi sayang, hidup itu tidak perlu kehebatan seperti itu, kehebatan yang sesekali. Akang ingin hidup terus-menerus hingga Allah yang mengakhiri. Melompat-lompat, supaya bisa terbang dan terjun dan terbang dan terjun. Terserah Allah akan mengehentikannya pada saat yang mana, ketika akang terjun atau terbang. Kapanpun itu, akang dalam keadaan melompat.
Hujan memang tidak melompat. Di pelajaran SD ada siklus hidrologi, bukan hidrolompat ya sayang. Air dari kubangan tempat hidup makhluk Tuhan menjadi embun yang meneduhkan kota sibuk nan ramai. Mereka? Dua hal besar ini, mohon maaf, akang acuhkan. Mengapa akang acuhkan? Semua pasti sepakat kalau hujan itu bukan tumpahan air, kan?
Jika awan kita sebut 'dia', hujan adalah 'mereka'. Yang akang saksikan adalah jumlah tak terhitung (bukan tak terhingga) titik-titik air yang menghujam tanah maupun genteng. Mereka kecil-kecil. Bayangkan saja jika Allah menciptakan konsep hujan dengan menggunakan proses penumpahan, bukan penaburan. Itu air yang sering membuat banjir jika dijatuhkan seketika, tak terbayang kan? Begitu pula saat menjadi awan, mereka bahkan tak terlihat sama sekali.
Tidak terlalu beda dengan kamu, di pikiran akang. Kamu yang jelas belum akang ketahui terus melompat-lompat dan terus mengawan-awan. Entah mungkin sebenarnya kesadaran akang yang sengaja melompat seperti tupai dan menyiklus seperti air. Suatu saat, akang akan melupakanmu seperti kita tak pernah ditakdirkan untuk bertemu. Di saat yang lain, kamulah satu-satunya yang menjadi lagu dari nafas akang yang menderu-deru.
Hingga kita bertemu, sedang bertemu, berakhirnya bertemu: akang bisa pastikan siklus lompatan rindu ini (bisa) terus terjadi. Sudah akang katakan, akang tidak ingin terbang, terbang meninggalkanmu. Akang juga tidak ingin terjun, terjun memujamu. Akang akan terus melompat, supaya hidup selamat. Tenang, lompatannya tidak akan pernah selincah tupai, semua berjalan perlahan laksana titik-titik uap dan hujan.
Sekarang, hujan sudah mulai mereda. Dingin sekali di luar, tutup jendelanya ya. Pakailah selimutmu dulu, akang belum bisa menghangatkanmu sekarang. Saatnya akang melompat, mulai melupakan kamu. Kamu yang akang rindukan, pasti dan selalu. Ini hanya soal siklus. Selamat malam sayangku.