Aku, Hitam, Lubang yang Sama Tak Sempurna

Aku sendiri di dalam tempat yang gulita. Memang ada segaris cahaya masuk lewat satu lubang kecil. Sayang, dia tidak cukup manjur untuk mengalihkan perhatianku dari hitam.
Semua itu hitam, ditambah dingin lantai yang kubaringi, ditambah juga bau apek yang kuhirup. Aw, Kasar. Aku tidak diam. Ada saja yang bisa kulakukan, aku hanya tak harus memperlihatkan. Apa yang kulakukan? aku melakukan ‘hitam’. Setidaknya, aku menganggap bahwa aku melakukan sesuatu.
Apakah hanya aku yang melakukan sesuatu? Bagaimana dengan si hitam? Dia melakukan sesuatu padaku hingga segaris cahaya pun tidak membuatku melakukan hal yang lain. Aku melihat cahaya itu, tapi aku anggap dia diam, tak ada yang dilakukannya. Ada aku dan hitam yang melakukan sesuatu. Garis cahaya tidak melakukan sesuatu.
Oh! si lubang ternyata yang tengah melakukan sesuatu. Bukankah lubang itu sama-sama ketidaksempurnaan juga seperti kita? Cahaya yang sempurna hanya diam. Lubanglah yang sedang melakukan.
Baik.
Hai hitam, temanku, kita perbesar teman baru kita ini. Perbesar lubangnya.
Aku, hitam, dan lubang. Kami sama-sama tidak sempurna, hanya saja kami tidak diam. Maaf cahaya, makanya kau tidak masuk hitungan.
Tapi, lubang.. hitam.. apakah kita akan selalu bersama?